Breaking News
Loading...

Recent Post

Jumat, 14 Agustus 2020
no image

Memahami dari Mana Asal Ingus dan Ciri-Ciri Ingus yang Berbahaya oleh - alatkesehatan.xyz

Halo sahabat selamat datang di website alatkesehatan.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Memahami dari Mana Asal Ingus dan Ciri-Ciri Ingus yang Berbahaya, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Saat terkena flu atau alergi, Anda pasti akan merasa tidak nyaman dengan bagian hidung Anda. Pasalnya, Anda akan sibuk membersihkan cairan hidung atau ingus yang mengalir tanpa henti walaupun sudah dikeluarkan berkali-kali. Sebenarnya, dari mana asalnya ingus? Apakah ingus bisa menjadi pertanda masalah pada tubuh? Baca terus ulasan berikut ini, ya!

Fakta unik seputar ingus

Ingus merupakan lendir atau cairan yang dihasilkan oleh kelenjar mukosa yang melapisi saluran pernapasan. Saluran ini meliputi hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Tubuh menghasilkan lendir secara terus menerus, bahkan mencapai satu sampai dua liter lendir setiap harinya.

Menariknya lagi, Anda tidak sadar bahwa setiap hari Anda menelan ingus saat sedang tidak dalam kondisi flu. Hal ini terjadi ketika rambut halus pada sel hidung (silia) memindahkan lendir ke saluran hidung bagian belakang menuju tenggorokan dan menelannya.

Namun jangan salah, lendir hidung memiliki peran penting untuk tubuh Anda, di antaranya:

  • Menjaga kelembapan lapisan dalam hidung agar tidak kering
  • Menangkap debu dan partikel lain saat bernapas
  • Melawan infeksi
  • Melembapkan udara yang dihirup sehingga menjadi lebih nyaman saat bernapas

Dari mana asal ingus?

Lendir hidung yang normal memiliki tekstur yang sangat tipis dan encer. Peningkatan produksi ingus merupakan salah satu cara tubuh merespon zat-zat asing yang masuk ke dalam tubuh. Pasalnya, ingus berperan sebagai penghalang infeksi dengan cara membersihkan organ hidung dari partikel-partikel yang menyebabkan peradangan.

Bila selaput lendir meradang, maka hal ini dapat membuat tekstur lendir menjadi lebih pekat. Kondisi inilah yang cenderung membuat Anda tak nyaman saat kena flu. Penyebab peradangan selaput lendir bisa karena infeksi, alergi, iritan, atau rhinitis vasomotor.

1. Infeksi

Saat Anda demam atau kedinginan, hidung menjadi lebih rentan terhadap infeksi bakteri dan virus. Virus flu akan memicu tubuh untuk melepaskan histamin, yaitu bahan kimia yang memicu peradangan pada selaput hidung. Ini sebabnya produksi lendir menjadi meningkat dan menebal.

Namun, penebalan tekstur lendir tidak selalu buruk. Pasalnya, penebalan ini membuat bakteri menjadi sulit mengendap di lapisan hidung. Hidung berair merupakan cara tubuh untuk memindahkan bakteri dan zat-zat lain yang tidak dibutuhkan untuk keluar dari hidung.

2. Alergi

Reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, jamur, bulu hewan, atau alergen lainnya dapat menyebabkan peradangan selaput lendir. Sel mast dalam tubuh akan mengeluarkan histamin yang menyebabkan bersin, gatal, dan hidung tersumbat. Selanjutnya, hidung akan mengeluarkan ingus secara berlebihan.

3. Iritan (penyebab iritasi)

Berbagai iritan non-alergen dapat memicu timbulnya peradangan dan memunculkan sensasi pilek dalam jangka pendek, contohnya saat Anda terkena asap rokok atau kaporit usai berenang. Mengonsumsi makanan yang sangat pedas juga bisa menyebabkan peradangan sementara pada membran hidung. Meskipun tidak berbahaya, hal ini membuat produksi lendir menjadi berlebihan.

4. Rhinitis vasomotor

Pernah mengalami hidung meler dalam waktu lama? Bisa jadi Anda mengalami rhinitis vasomotor. Rhinitis vasomotor merupakan kondisi saat pembuluh darah di membran hidung mengalami pembengkakan sehingga produksi lendir menjadi lebih banyak. Hal ini dapat dipicu oleh alergi, infeksi, iritasi dari udara, dan masalah kesehatan lainnya.

5. Menangis

Menangis merupakan satu-satunya pemicu produksi ingus yang tidak ada kaitannya dengan infeksi, alergi, atau kondisi medis lainnya. Saat menangis, kelenjar air mata yang terletak di bawah kelopak mata akan menghasilkan cairan (air mata).

Sebagian air mata akan mengalir ke luar dan mengalir di pipi. Namun, sebagian akan mengalir ke saluran air mata yang terletak di sudut mata Anda. Selanjutnya, cairan ini akan bercampur dengan lendir yang ada di dalam hidung sehingga terdorong keluar menjadi ingus.

Apa tanda ingus yang berbahaya?

Sehat atau tidaknya kondisi tubuh Anda dapat dilihat dari warna ingus. Warna ingus biasanya cenderung bening dan berair. Jika warna ingus berubah menjadi hijau atau kuning, ini bisa menjadi pertanda infeksi bakteri sedang berkembang di dalam tubuh. Hal ini disebabkan karena sel darah putih yang melawan infeksi mengandung enzim yang berwarna hijau. Jika dalam jumlah yang besar, maka ini bisa menyebabkan lendir berubah warna menjadi hijau.

Bila Anda pernah mengalami perubahan warna lendir hidung menjadi merah atau kecokelatan, kemungkinan ini disebabkan oleh adanya pembuluh darah hidung yang pecah. Hal ini dapat terjadi saat lapisan hidung terlalu kering atau terdapat luka karena gosokan yang terlalu keras.

Meski demikian, perubahan warna ingus tidak selalu mutlak menandakan adanya infeksi bakteri dalam tubuh Anda. Oleh karena itu, segera tanyakan pada dokter untuk diagnosis yang lebih tepat.

Itulah tadi informasi mengenai Memahami dari Mana Asal Ingus dan Ciri-Ciri Ingus yang Berbahaya dan sekianlah artikel dari kami alatkesehatan.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Minggu, 09 Agustus 2020
no image

Ibu Positif COVID-19 Bisa Menyusui Tanpa Menularkan ke Bayi oleh - alatkesehatan.xyz

Halo sahabat selamat datang di website alatkesehatan.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Ibu Positif COVID-19 Bisa Menyusui Tanpa Menularkan ke Bayi oleh - alatkesehatan.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Ibu yang positif  COVID-19bisa tetap menyusui bayinya dan tidak menularkan virus corona selama bisa melakukan berbagai tindak pencegahan. Bagaimana caranya agar aman menyusui buah hati meski tengah terinfeksi COVID-19?

Ibu yang terinfeksi COVID-19 bisa menyusui bayi dengan aman

ibu menyusui positif covid-19

Studi terbaru menemukan fakta bahwa ibu dengan COVID-19 bisa dengan aman menyusui bayinya tanpa menularkan virus. Penelitian tersebut melibatkan 120 orang bayi yang baru dilahirkan oleh ibu yang positif COVID-19. 

Sekitar tiga perempat dari ibu hamil mengalami gejala COVID-19 sejak dari rumah dan sekitar setengahnya baru merasakan gejala ketika proses melahirkan. Di rumah sakit, para ibu diizinkan untuk dirawat dalam satu kamar dengan bayinya. Tapi, si bayi harus disimpan di tempat tidur bayi yang berjarak 1,8 meter dari tempat tidur si ibu. 

Para ibu itu diperbolehkan menyusui bayinya jika merasa cukup sehat atau gejala COVID-19 telah mereda. Tapi sebelumnya, si ibu wajib mencuci tangan, memakai masker, dan mencuci payudara mereka sebelum menyentuh bayi.

Semua bayi melakukan tes COVID-19 terlebih dulu dalam 24 jam pertama setelah lahir, hasilnya tidak ada yang dinyatakan positif. Setelah satu minggu, sebanyak 79 bali dites ulang dan semua hasilnya negatif. Lalu dua minggu kemudian, 72 bayi dites untuk ketiga kalinya. Hasilnya tidak ada satupun yang dinyatakan positif COVID-19. 

Peneliti lalu melakukan pemantauan jarak jauh pada 50 bayi setelah mereka berusia satu bulan. Hasilnya, tumbuh kembang bayi berjalan tanpa hambatan baik itu pada ibu yang positif COVID-19 dengan gejala maupun positif tanpa gejala. 

“Kami berharap penelitian ini memberikan sedikit jaminan kepada para ibu baru bahwa risiko mereka menularkan COVID-19 kepada bayi mereka cenderung rendah,” kata dr. Christine Salvatore, salah satu penulis laporan studi tersebut. Dr. Salvatore adalah spesialis penyakit menular anak di Weill Cornell Medicine-New York Presbyterian Komansky Children’s Hospital. 

Para penulis mengatakan, menyusui dan kontak fisik langsung antara ibu dan bayinya yang baru lahir sangat penting untuk kesehatan anak dalam jangka panjang. Temuan ini membuat ibu yang terinfeksi COVID-19 bisa tetap menyusui dan tidak kehilangan momen-momen tersebut selama menjalankan protokol kesehatan.

Namun, mereka menegaskan bahwa studi tersebut masih dalam skala relatif kecil, sehingga studi yang lebih besar diperlukan untuk memastikan keakuratan hasil penelitian.

Menjaga bayi aman dari penularan COVID-19

ibu terinfeksi covid-19 bisa menyusui

Penelitian ini memberi gambaran baru karena sebelumnya dilaporkan beberapa kasus bayi positif COVID-19 dalam 48 jam setelah dilahirkan. Bayi-bayi ini diduga tertular COVID-19 sejak dalam rahim si ibu.

Temuan terbaru tentang COVID-19 terus bertambah, membuat tenaga medis dan masyarakat harus terus menyesuaikan diri. Panduan untuk ibu hamil dan menyusui yang terinfeksi COVID-19 juga terus berubah seiring dengan bertambahnya pengetahuan ilmuwan tentang bahaya dan cara penularan virus corona ini.

Pada awal pandemi, American Academy of Pediatrics (AAP) awalnya merekomendasikan agar ibu yang terinfeksi COVID-19 dipisahkan dari bayi baru lahir. AAP juga merekomendasikan agar bayi diberikan ASI dengan botol susu.

Namun, AAP telah memperbarui pedoman mereka untuk mengatakan bahwa ibu positif COVID-19 dapat berbagi kamar dan menyusui dengan tindakan pencegahan tertentu.

Ibu positif COVID-19 kini bisa tetap menyusui bayinya selama menjalankan protokol kesehatan. Tapi kondisi tersebut tak berlaku jika si ibu mengalami gejala berat COVID-19.

Itulah tadi informasi mengenai Ibu Positif COVID-19 Bisa Menyusui Tanpa Menularkan ke Bayi oleh - alatkesehatan.xyz dan sekianlah artikel dari kami alatkesehatan.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Quick Message
Press Esc to close